Bu, trimakasih telah menampungku berpijak di atas
tanahmu. Walau aku tak selalu berdiri kokoh, namun kau menopangku secara utuh.
Trimakasih telah mencintaiku dengan welas asih, tanpa pamrih. Lirih. Lirihmu
menjagaku selirih angin yang dihembuskan ke dalam setiap sanubari insan. Tak terlihat,
namun pekat.
Tercekat.
Sebagian dariku sekarat melihatmu hampir tamat. Kaget menyaksikanmu
nyaris menjadi riwayat. Hentakan dari gunung-gunungmu yang telah beranak pinak
sampai muntab. Anak-anaknya mengeluarkan amarah yang mungkin telah lama di
redamnya. Ia marah pada insan-insan sepertiku. Aku telah mengambil banyak
darimu. Namun tak kuganti dengan apa yang seharusnya kubayar.
Lunas.
Aku berhutang banyak padamu, mas. Masa-masaku banyak
melibatkanmu. Kulibatkan pohon-pohon kokohmu sebagai alas tempatku belajar.
Kuambil intisarinya untuk menulis ragam majas. Bahkan, sampai tisupun harus kau
kulibatkan untuk mengelap tangis pada diri yang tak waras. Daun-daunmu yang
meranggas sampai heran, manusia macam apa aku ini yang tak tahu trimakasih. Tak
tahu diri bahwa di dunia ini segalanya berbayar.
Namun satu yang pasti; jika semua yang kumiliki
diakumulasikan untuk membayar barang dan jasamu, jelas sepersenpun tak dapat
menggantikannya. Tulusmu dalam mencintaiku tak mudah dilunaskan dengan apa pun.
Salah satu yang harus kusyukuri adalah Gusti menaruhku di tempat yang tepat. Di
atas tanah yang dimerdekakan dengan darah. Dan di hidupi oleh bara semangat
pahlawan yang gugur di medan tempur.
Satu lagi bu. Hanya satu. Trimakasih telah mencintaiku
tanpa syarat :)
Komentar
Posting Komentar