“Gusti, skenario apalagi yang Engkau ingin aku mainkan?”
tanya perapal mantra dalam kepayahannya. Ia tak tahu kejutan apa yang ada di
depan sana nanti. Pun ia tak tahu pada sisi roda mana ia akan berhenti. Banyak
peran yang telah ia jalani. Tapi juga banyak misi yang belum sempat ia
tuntaskan.
“Gusti, Engkau telah memberiku banyak di tahun kemarin.
Nano-nano hidup telah Kau cecapkan padaku. Namun di penghujung tahun yang
kupikir rasanya akan sama pada tahun sebelumnya, Kau beriku kepahitan yang
sampai sekarang masih terasa getar di kerongkongan. Tentu dengan pasti aku
yakin Kau lebih tahu kesanggupanku, sejauh mana batas kemampuanku, dan seberapa
kokoh aku berdiri. Kau tahu kejatuhanku. Hampir menyerah rasanya, hehe.”
Yang jelas hidupku banyak berubah setelah kemarin. Menjadi berantakan,
sering. Menjadi rajin, juga tak terlalu. Menjadi baik, semoga.
“Gusti, bolehkah
aku nambah mantra satu lagi? Berhentikanku pada sisi roda terbaikku.”
Komentar
Posting Komentar